1
1
KOMNAS Pengendalian Tembakau menegaskan bahwa tingginya belanja rokok menjadi salah satu pemicu utama kemiskinan rumah tangga di Indonesia. Pengeluaran untuk produk tembakau tercatat jauh melampaui anggaran untuk pemenuhan pangan bergizi.
Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, mengungkapkan bahwa fenomena ini memperburuk kesejahteraan kelompok rentan dan berkontribusi pada penurunan kelas menengah. Hal tersebut disampaikan dalam Lokakarya “Di Balik Layar Cukai” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Makassar, Sabtu (23/5).
Tulus Abadi menekankan pentingnya prioritas pengendalian konsumsi.
“Pengeluaran rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur,” ujarnya dilansir dari Antara, Minggu (24/5).
Selain faktor ekonomi, konsumsi rokok dan vape juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Nikotin disebut dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak anak dan remaja. Paparan asap rokok juga meningkatkan risiko stunting secara signifikan dibandingkan keluarga non-perokok.
Tulus juga menyoroti kebijakan cukai rokok 2026 yang dinilai masih belum sepenuhnya berorientasi pada pengendalian konsumsi. Padahal, kerugian ekonomi akibat rokok mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya, yang mencakup beban pembiayaan kesehatan nasional untuk penyakit kronis seperti jantung, stroke, dan diabetes.
“Pengendalian konsumsi rokok harus menjadi prioritas utama, karena dampaknya sangat luas, bukan hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan kualitas sumber daya manusia,” tegas Tulus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Kementerian Kesehatan, berikut adalah perbandingan pengeluaran per kapita masyarakat:
| Wilayah | Rokok Kretek Filter | Telur Ayam Ras |
|---|---|---|
| Perkotaan | 11,30% | 4,30% |
| Pedesaan | 10,78% | 3,69% |
(Z-10)