1
1
Zinedine Zidane akhirnya kembali ke dunia kepelatihan setelah lima tahun menepi. Legenda sepak bola Prancis tersebut ditunjuk menjadi pelatih baru Les Bleus menggantikan Didier Deschamps yang mengakhiri masa jabatannya setelah Piala Dunia 2026.
Penunjukan itu sekaligus mengakhiri salah satu rahasia paling terbuka dalam sepak bola internasional. Nama Zinedine Zidane sudah lama dipandang sebagai calon utama penerus Deschamps, terutama setelah pelatih berusia 57 tahun tersebut mengumumkan rencana mundur pada Januari 2025.
Zinedine Zidane mengambil alih Timnas Prancis setelah Les Bleus menyelesaikan Piala Dunia 2026 di peringkat keempat. Persiapan pertamanya akan diarahkan menuju pertandingan UEFA Nations League pada September, sebelum Prancis memulai kualifikasi Euro 2028 tahun depan.
Dilansir dari ESPN, Zinedine Zidane sebenarnya sudah mencapai kesepakatan verbal untuk menangani Prancis sejak Maret 2026. Namun, pengumuman resmi baru dilakukan setelah Deschamps menuntaskan tugasnya dalam turnamen empat tahunan tersebut.
Zinedine Zidane bukan sosok asing bagi publik sepak bola Prancis. Sebagai pemain, ia menjadi tokoh utama ketika Les Bleus menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.
Kini, Zinedine Zidane memiliki kesempatan melengkapi pencapaiannya dengan membawa Timnas Prancis meraih gelar sebagai pelatih. Jika berhasil, ia akan mencatatkan prestasi istimewa setelah sebelumnya sukses besar sebagai pemain dan juru taktik klub.
Pria berusia 54 tahun tersebut juga pernah meraih penghargaan Ballon d’Or. Namanya dikenang sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah berkat kemampuan teknik, visi bermain, serta ketenangan dalam pertandingan besar.
Keberhasilan sebagai pemain kemudian diteruskan Zinedine Zidane saat menjadi pelatih Real Madrid. Dalam dua periode kepemimpinan, ia memenangkan sejumlah gelar elite, termasuk Liga Champions dan Liga Spanyol.
Zinedine Zidane pertama kali menangani Real Madrid pada Januari 2016. Ia dipromosikan dari tim cadangan untuk menggantikan Rafael Benitez setelah klub menjalani awal musim yang mengecewakan.
Dampaknya langsung terlihat dalam waktu singkat. Real Madrid mencatatkan 12 kemenangan beruntun dan menutup kompetisi LaLiga 2015-2016 hanya satu poin di belakang Barcelona.
Pencapaian terbesar pada musim tersebut datang di Liga Champions. Real Madrid mengalahkan Atletico Madrid melalui adu penalti dalam pertandingan final di Milan.
Musim berikutnya berjalan lebih mengesankan. Zinedine Zidane membawa Real Madrid melewati Bayern Munchen dan Atletico Madrid sebelum menghancurkan Juventus dengan skor 4-1 pada final Liga Champions di Cardiff.
Los Blancos juga menjuarai LaLiga pada musim 2016-2017. Gelar tersebut membuat Real Madrid mencatatkan kombinasi juara liga dan Liga Champions untuk ketiga kalinya dalam sejarah klub.
Dominasi Zinedine Zidane berlanjut pada musim 2017-2018. Real Madrid mengalahkan Liverpool 3-1 di Kyiv untuk meraih gelar Liga Champions ketiga secara beruntun.
Tidak ada klub yang mampu menjuarai kompetisi elite Eropa secara beruntun sejak AC Milan melakukannya pada 1990. Zidane bahkan melampaui pencapaian tersebut dengan memenangi tiga edisi berturut-turut dalam format Liga Champions modern.
Beberapa hari setelah kemenangan di Kyiv, Zinedine Zidane mengejutkan publik dengan mengundurkan diri. Namun, ia kembali sembilan bulan kemudian setelah Julen Lopetegui dan Santiago Solari gagal menyamai keberhasilannya.
Periode kedua Zinedine Zidane di Real Madrid memang tidak semegah masa pertamanya. Meski demikian, ia tetap berhasil membawa klub menjuarai LaLiga 2019-2020 dalam situasi sulit akibat pandemi Covid-19.
Kompetisi saat itu sempat dihentikan selama tiga bulan. Zidane mampu menjaga fokus tim dan mengantarkan Real Madrid melewati persaingan panjang untuk merebut gelar liga.
Pada musim berikutnya, Real Madrid finis sebagai runner-up LaLiga di bawah Atletico Madrid. Perjalanan mereka di Liga Champions juga berakhir pada semifinal setelah disingkirkan Chelsea.
Real Madrid menutup musim tersebut tanpa gelar. Zinedine Zidane kemudian kembali mengundurkan diri pada Mei 2021 meskipun masih memiliki kontrak selama satu tahun.
Dalam surat terbuka kepada pendukung, Zidane membantah dirinya kehilangan motivasi melatih. Ia menyebut minimnya dukungan internal dan kebocoran informasi mengenai masa depannya sebagai alasan utama meninggalkan klub.
Penunjukan Zinedine Zidane memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana metode kepelatihannya akan diterapkan di Timnas Prancis. Ia tidak dikenal sebagai pelatih yang terpaku pada pola permainan kaku atau sistem yang terlalu rumit.
Kekuatan utama Zinedine Zidane terletak pada manajemen pemain. Semasa menangani Real Madrid, ia mampu membangun hubungan baik, menumbuhkan kepercayaan, serta mengoptimalkan kemampuan pemain bintang.
Pendekatan tersebut dinilai cocok dengan karakter sepak bola internasional. Pelatih tim nasional mempunyai waktu terbatas bersama pemain sehingga kemampuan membangun suasana positif menjadi sangat penting.
Bintang Prancis seperti Kylian Mbappe dan Michael Olise tumbuh dengan mengidolakan Zinedine Zidane. Kehadirannya diperkirakan memberikan motivasi tambahan sekaligus meningkatkan antusiasme di ruang ganti Les Bleus.
ESPN menggambarkan skuad Prancis sangat bersemangat menyambut kedatangan Zidane. Para pemain ingin segera memulai kerja sama dengan sosok yang membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 1998.
Selama berada di Real Madrid, Zinedine Zidane pernah menerapkan sejumlah keputusan taktik menarik. Salah satunya adalah menempatkan Isco sebagai gelandang serang bernomor 10.
Ia juga mampu mengoptimalkan Karim Benzema dalam berbagai peran. Penyerang Prancis itu awalnya menjadi pendukung Cristiano Ronaldo sebelum berkembang menjadi pusat permainan setelah kepergian bintang Portugal tersebut.
Zinedine Zidane lebih mengutamakan penempatan pemain terbaik pada ruang yang membuat mereka nyaman. Ia tidak merasa perlu memberikan terlalu banyak instruksi kepada pemain yang sudah memiliki kecerdasan dan kualitas teknik tinggi.
Zidane pernah mengatakan Luka Modric tidak membutuhkan arahan mengenai cara mengoper bola. Tugas pelatih, menurutnya, adalah menciptakan lingkungan dan posisi yang memungkinkan sang pemain menunjukkan versi terbaiknya.
Pendekatan serupa kemungkinan diterapkan kepada Mbappe, Olise, Ousmane Dembele, dan pemain kreatif Prancis lainnya. Zidane akan berusaha memberikan kebebasan tanpa mengabaikan keseimbangan tim.
Zinedine Zidane mengambil alih skuad yang sebenarnya berada dalam kondisi bagus. Prancis memiliki kombinasi pemain muda, pengalaman, dan kualitas elite pada hampir seluruh posisi.
William Saliba, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Kylian Mbappe bahkan dinilai termasuk dalam kelompok pemain terbaik dunia. Kedalaman skuad juga membuat Zidane tidak perlu melakukan perubahan besar-besaran.
Persoalan utama Prancis terdapat pada posisi bek sayap. Selain bagian tersebut, Les Bleus mempunyai banyak pilihan berkualitas di lini pertahanan, tengah, maupun serangan.
Sejumlah pemain senior kemungkinan akan mengakhiri karier internasional. N’Golo Kante dan Lucas Hernandez termasuk nama yang diperkirakan meninggalkan Timnas Prancis setelah Piala Dunia 2026.
Zinedine Zidane akan membuka peluang bagi pemain muda untuk masuk ke dalam tim. Namun, kerangka utama skuad diperkirakan tidak mengalami banyak perubahan.
Didier Deschamps menggunakan skema 4-2-3-1 pada Piala Dunia 2026. Dalam susunan tersebut, Michael Olise mendapat peran sebagai pemain nomor 10 di belakang penyerang utama.
Zinedine Zidane lebih menyukai formasi dengan tiga gelandang seperti yang diterapkannya bersama Real Madrid. Karena itu, ia berpeluang mengubah sistem Prancis menjadi 4-3-3.
Perubahan tersebut dapat membuat Olise kembali bermain melebar. Zinedine Zidane harus menentukan apakah pemain tersebut lebih efektif ditempatkan sebagai sayap atau tetap diberi kebebasan di area tengah.
Formasi 4-3-3 memungkinkan Prancis menempatkan tiga gelandang untuk mengontrol permainan. Sistem itu juga dapat memberikan ruang besar bagi Mbappe, Dembele, dan Olise untuk mengeksploitasi pertahanan lawan.
Namun, Zidane dikenal pragmatis dan tidak terikat pada satu formasi. Ia diperkirakan menyesuaikan sistem dengan karakter pemain serta kebutuhan dalam setiap pertandingan.
Perubahan paling besar di era Zinedine Zidane kemungkinan terjadi pada struktur staf. Ia akan membawa tim pendukung yang lebih besar dibandingkan susunan kepelatihan era Deschamps.
David Bettoni dipersiapkan menjadi asisten utama. Bettoni merupakan sahabat lama Zidane dan pernah mendampinginya selama menangani Real Madrid.
Hamidou Msaidie akan mengisi posisi asisten berikutnya. Sementara Gregory Dupont dipercaya menangani kondisi kebugaran pemain sebagai pelatih fisik.
Mantan kiper Timnas Prancis, Fabien Barthez, diperkirakan bergabung sebagai pelatih penjaga gawang. Bernard Diomede yang menangani Prancis U-19 juga akan menjadi bagian dalam staf baru tersebut.
Diomede pernah bermain bersama Zinedine Zidane di Timnas Prancis. Kehadirannya diharapkan membantu menghubungkan tim senior dengan pembinaan pemain muda.
Departemen medis juga akan mengalami perubahan. Dr Herve Collado ditunjuk memimpin tim medis yang dilengkapi fisioterapis, pemijat, chiropractor, dan tim performa khusus.
Struktur baru tersebut dirancang lebih besar dan berstandar elite. Para pemain diperkirakan akan langsung merasakan perbedaan dalam metode persiapan, pemulihan, dan pemantauan kondisi fisik.
Didier Deschamps dan Zinedine Zidane saling menghormati, tetapi keduanya tidak mempunyai hubungan dekat. Situasi itu sudah terjadi sejak mereka bermain bersama di Juventus maupun Timnas Prancis.
Deschamps disebut tidak terlalu senang karena Zidane terlihat menunggu dirinya meninggalkan posisi pelatih. Kesepakatan verbal yang dicapai sebelum Piala Dunia 2026 turut memberikan tekanan tidak langsung kepada Deschamps.
Meski demikian, Zinedine Zidane mewarisi tim yang dibangun dengan baik oleh pendahulunya. Ia tidak perlu meruntuhkan fondasi era Deschamps untuk memulai proyek baru.
Tugas utamanya adalah memberikan energi berbeda setelah Prancis finis keempat di Piala Dunia 2026. Zidane harus mengubah kekecewaan tersebut menjadi motivasi menuju UEFA Nations League dan Euro 2028.
Zinedine Zidane tidak menangani klub mana pun sejak meninggalkan Real Madrid pada 2021. Ia memilih menjalani kehidupan yang lebih tenang bersama istri dan empat putranya.
Putra tertuanya, Enzo, pensiun dari sepak bola pada 2024 dalam usia 31 tahun. Luca Zidane bermain untuk Granada dan membela Aljazair pada Piala Dunia 2026.
Theo Zidane bermain bersama Cordoba. Sementara putra bungsunya, Elyaz, meninggalkan Real Betis untuk melanjutkan karier bersama Red Star FC.
Zinedine Zidane kerap terlihat menyaksikan pertandingan putra-putranya langsung dari tribune. Ia mengikuti dan membantu perkembangan karier mereka meskipun tidak terlibat sebagai pelatih profesional.
Zidane juga menjaga jarak dari Real Madrid agar kehadirannya tidak memberikan tekanan kepada pelatih yang menggantikannya. Ia hanya beberapa kali terlihat menonton pertandingan di Stadion Santiago Bernabeu.
Salah satu kemunculannya terjadi ketika Real Madrid menghadapi Manchester City di Liga Champions musim lalu. Zidane menghindari pertanyaan wartawan ketika meninggalkan stadion.
Di luar sepak bola, Zinedine Zidane mengembangkan bisnis olahraga padel. Olahraga raket tersebut telah berkembang pesat di Spanyol, Argentina, dan sejumlah negara lain.
Perusahaan miliknya, Z5, membuka klub padel pertama pada 2021. Kini bisnis tersebut mempunyai tiga lokasi yang berada di Aix-en-Provence, Istres, dan kawasan di luar Turin.
Zinedine Zidane juga dikabarkan mempertimbangkan ekspansi ke Madrid. Proyek tersebut menjadi salah satu aktivitas utamanya selama lima tahun tidak menangani klub.
Sepanjang periode tersebut, Zidane beberapa kali dikaitkan dengan pekerjaan besar. Namun, sejumlah rumor mengenai kepindahannya ke Liga Inggris dianggap kurang realistis karena keterbatasan kemampuan dan kepercayaan dirinya dalam berbahasa Inggris.
Sejak awal, hanya dua pekerjaan yang dianggap benar-benar menarik perhatian Zinedine Zidane. Pilihan pertama adalah kembali untuk ketiga kalinya ke Real Madrid, sedangkan pilihan lainnya menangani Timnas Prancis.
Kesempatan kedua akhirnya datang setelah penantian panjang. Kini Zinedine Zidane mempunyai peluang membawa generasi emas Prancis meraih gelar dan menyempurnakan statusnya sebagai legenda Les Bleus.