1
1
CALON Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menghadapi tantangan besar untuk menjaga kredibilitas bank sentral di tengah tekanan ekonomi yang menuntut keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, jika terpilih, Destry harus memastikan kebijakan moneter tetap mampu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus memberikan ruang bagi perekonomian untuk tumbuh secara berkelanjutan.
“Tantangan terbesar Destry adalah menjaga kredibilitas bank sentral di tengah tekanan yang saling berlawanan,” kata Rizal kepada Media Indonesia, Rabu (26/8).
Menurutnya, rupiah harus stabil dan inflasi terkendali, sementara ekonomi juga membutuhkan ruang untuk tumbuh. Karena itu, tantangan Destry bukan sekadar menentukan arah BI-Rate, tetapi memastikan independensi BI tetap kuat dan setiap keputusan moneter berbasis data, bukan tekanan jangka pendek untuk mengejar pertumbuhan.
Untuk menjaga rupiah tanpa terlalu menekan ekonomi, BI tidak bisa hanya mengandalkan suku bunga. Instrumen stabilisasi valuta asing, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pendalaman pasar keuangan, dan kebijakan makroprudensial perlu digunakan secara lebih presisi.
Rizal berpandangan suku bunga sebaiknya menjadi instrumen utama ketika tekanan rupiah mulai mengganggu inflasi dan ekspektasi pasar, sedangkan ruang pertumbuhan diperkuat melalui likuiditas dan insentif kredit yang lebih terarah ke sektor produktif.
Ia juga menilai transmisi kebijakan BI juga perlu diperbaiki agar stabilitas moneter tidak dicapai dengan mengorbankan pertumbuhan. Menurutnya, pengelolaan SRBI perlu lebih hati-hati agar tidak terlalu agresif menyerap likuiditas atau bersaing dengan SBN. “Stabilitas harus tetap menjadi jangkar, tetapi instrumennya harus efektif dan tidak kontraproduktif terhadap pertumbuhan,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan tantangan Destry bukan hanya menentukan kapan menaikkan atau menurunkan BI-Rate, melainkan menjaga hierarki mandat BI ketika tekanan untuk mendorong pertumbuhan semakin besar.
Dalam uji kelayakan, Destry sendiri menempatkan stabilitas sebagai fondasi pertumbuhan, sekaligus mendorong BI lebih aktif mendukung kredit, daya beli, UMKM, dan pertumbuhan ekonomi.
Josua mencatat ekonomi tumbuh 5,29% dengan inflasi 2,88%, sementara ruang penyaluran kredit masih besar. Fasilitas kredit yang belum ditarik mencapai sekitar Rp2.548 triliun atau 21,8% dari plafon. Kondisi tersebut menunjukkan ruang untuk mendorong pembiayaan masih tersedia, tetapi tetap harus dilakukan tanpa mengorbankan stabilitas rupiah dan inflasi.
“Jangan sampai mandat mendukung pertumbuhan berubah menjadi kewajiban mengejar angka pertumbuhan tertentu dengan mengorbankan kredibilitas BI,” kata Josua.
Tantangan tersebut semakin berat karena kondisi eksternal Indonesia belum sepenuhnya kuat. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 melebar dari 0,97% menjadi 3,34% terhadap PDB, sementara surplus perdagangan barang menyusut dan defisit migas meningkat menjadi US$10,18 miliar. Neraca pembayaran juga masih defisit meski transaksi finansial membaik karena masuknya investasi portofolio, terutama ke SRBI.
Di sisi lain, cadangan devisa turun menjadi US$145,3 miliar pada Juli dari US$145,6 miliar pada Juni akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI. Kondisi tersebut masih memadai, tetapi menunjukkan ruang pelonggaran moneter secara agresif tetap terbatas oleh kerentanan eksternal.
Masalah lainnya adalah kualitas arus modal. Sepanjang 2026, arus asing masih terkonsentrasi pada SRBI sekitar US$10,06 miliar, sedangkan arus ke SBN sekitar US$0,94 miliar dan saham mencatat arus keluar sekitar US$4,14 miliar. Posisi SRBI juga masih sekitar Rp1.038,9 triliun pada 19 Agustus. “BI perlu mengubah stabilitas rupiah yang ditopang modal portofolio menjadi stabilitas yang lebih berbasis ekspor dan investasi langsung,” ujar Josua.
Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada SRBI memang dapat membantu menopang rupiah dalam jangka pendek, tetapi juga menimbulkan kerentanan ketika arah modal global berbalik. Karena itu, stabilitas rupiah perlu diperkuat melalui ekspor, investasi langsung, pendalaman pasar valuta asing, serta pasokan devisa domestik yang lebih kuat.
Josua menilai BI-Rate juga tidak seharusnya menjadi alat untuk menyelesaikan seluruh persoalan. Intervensi nilai tukar, operasi moneter, kebijakan makroprudensial, serta pendalaman pasar uang dan valuta asing perlu digunakan secara bersamaan. Ia juga menilai pendekatan BI yang tidak langsung menaikkan suku bunga ketika rupiah tertekan merupakan langkah yang lebih tepat selama tekanan inflasi masih terkendali. “BI tidak seharusnya mempertahankan rupiah pada angka tertentu dengan segala biaya,” tegasnya.
Hal lain yang menjadi ujian kredibilitas Destry adalah menjaga batas antara koordinasi dengan pemerintah dan independensi BI. Destry telah menegaskan sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi BI dan setiap lembaga tetap memiliki mandat masing-masing. Namun, pasar membutuhkan bukti bahwa prinsip tersebut benar-benar diterapkan dalam pengambilan kebijakan.
Josua menuturkan, jika pemerintah mendorong pertumbuhan hingga 8%, sementara BI menilai pelonggaran moneter dapat membahayakan rupiah dan inflasi, Gubernur BI harus mampu mengambil keputusan berdasarkan mandat dan data. Kemampuan untuk berbeda pandangan secara terbuka justru menjadi bagian dari koordinasi yang sehat.
Sebagai calon yang berasal dari internal BI, Destry juga dituntut menunjukkan perubahan yang konkret, bukan hanya kesinambungan kebijakan. Josua mengatakan keberhasilannya dapat diukur dari berkurangnya ketergantungan rupiah terhadap intervensi dan SRBI, meningkatnya efektivitas insentif likuiditas terhadap kredit produktif, serta semakin transparannya komunikasi BI mengenai alasan dan biaya setiap kebijakan. (Ins/P-3)