1
1
Peta persaingan industri otomotif global kini memasuki babak baru yang unik. Tekanan pasar akibat masifnya ekspansi kendaraan asal Cina mulai memaksa sejumlah produsen otomotif konvensional asal Jepang untuk mengubah haluan strategi bisnis mereka, termasuk membuka peluang merakit mobil milik pesaingnya.
Kabar terbaru datang dari tanah Inggris, di mana raksasa otomotif Jepang, Nissan, mengonfirmasi tengah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan produsen otomotif asal Cina, Chery.
Keduanya menjajaki peluang kerja sama kerja rakitan (contract manufacturing), di mana pekerja Nissan akan memproduksi mobil-mobil Chery langsung di pabrik ikonis Nissan yang terletak di Sunderland, Inggris.
Langkah ini menyusul momentum serupa yang dimulai sebulan lalu oleh aliansi Stellantis dan Dongfeng yang telah lebih dulu menyepakati kerja sama produksi untuk pasar Eropa.
Melalui nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) non-mengikat yang baru saja ditandatangani, kedua belah pihak sepakat untuk mempelajari potensi pengosongan lini perakitan Nissan demi memberi ruang bagi kendaraan asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
Kendati demikian, Nissan menegaskan bahwa kepemilikan penuh atas fasilitas Sunderland akan tetap berada di bawah kendali mereka, dan seluruh proses perakitan model Chery akan ditangani langsung oleh karyawan Nissan.
Langkah pragmatis ini diambil Nissan menyusul terjadinya penurunan utilisasi kapasitas produksi di pabrik Sunderland. Melalui rencana konsolidasi internal yang diumumkan baru-baru ini, Nissan memutuskan untuk memusatkan seluruh aktivitas produksi mobil mereka di Jalur Dua (Line Two).
Keputusan tersebut otomatis membuat Jalur Satu (Line One) menjadi menganggur atau kekurangan beban kerja (underutilized). Celah kosong pada Jalur Satu inilah yang rencananya akan disewakan dan dialokasikan sepenuhnya untuk merakit kendaraan-kendaraan milik Chery.
Jika proses negosiasi berjalan mulus, perakitan massal mobil Chery di tanah Inggris ini dijadwalkan dapat dimulai paling cepat pada tahun fiskal 2027.
Meski belum ada rincian mengenai model spesifik apa saja yang akan masuk ke lini perakitan, pihak Nissan memberikan indikasi kuat bahwa produk yang akan dibuat adalah jenis kendaraan penumpang yang dirancang khusus untuk memenuhi standar dan kebutuhan pasar domestik Inggris.
Dalam sebuah pernyataan singkat, perwakilan manajemen Nissan, Massimiliano Messina, menyatakan optimismenya terkait kelanjutan dari penjajakan kerja sama ini.
“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Chery International UK dalam beberapa bulan mendatang untuk menyelesaikan posisi yang optimal bagi kedua perusahaan. Ini adalah langkah penting ke depan untuk operasi kami,” ujarnya seperti yang juga dilansir dari CarScoops, Kamis (04/06/2026).
Di balik melandainya performa produksi Nissan di beberapa kawasan Eropa, kondisi berkebalikan justru dialami oleh Chery. Pabrikan asal Cina tersebut tengah menikmati tren pertumbuhan penjualan yang sangat agresif di wilayah Britania Raya.
Melalui tiga sub-merek andalannya yang dipasarkan di Inggris—yakni Chery, Jaecoo, dan Omoda—grup otomotif ini berhasil mencatatkan angka penjualan gabungan yang fantastis mencapai 10.052 unit.
Performa penjualan tersebut jauh melampaui capaian Nissan di pasar domestik yang sama pada periode tersebut, yang hanya mampu membukukan penjualan sebanyak 4.079 unit kendaraan.
Kolaborasi silang antara basis manufaktur Jepang dengan kekuatan volume penjualan Cina ini diprediksi akan menjadi pola kemitraan baru di benua Eropa.
Strategi ini dinilai saling menguntungkan: bagi pabrikan Jepang, langkah ini dapat menyelamatkan fasilitas pabrik dan ribuan lapangan kerja dari ancaman penutupan, sementara bagi pabrikan Cina, lokalisasi perakitan di Eropa menjadi solusi taktis untuk menghindari hambatan tarif impor yang kian ketat.