1
1
Luka Modric memastikan belum akan mengakhiri karier sepak bolanya dalam waktu dekat. Gelandang asal Kroasia itu resmi memperpanjang kontraknya bersama AC Milan hingga akhir musim 2026/2027, ketika usianya sudah menyentuh 41 tahun.
Keputusan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan setelah AC Milan menutup musim 2025/2026 dengan hasil mengecewakan. Rossoneri gagal lolos ke Liga Champions meski sempat bertahan di posisi kedua klasemen dalam sebagian besar musim.
Perjalanan Luka Modric bersama tim nasional Kroasia di Piala Dunia 2026 juga berakhir lebih cepat. Kroasia tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah 1-2 dari Portugal melalui gol yang salah satunya dicetak Goncalo Ramos.
Namun, kegagalan bersama klub dan negara tidak memadamkan semangat Luka Modric. Pemain berusia 40 tahun itu merasa kondisi fisiknya masih memungkinkan untuk terus bermain pada level tertinggi.
Dilansir dari SempreMilan dan Football Italia, Luka Modric mengaku masih memiliki gairah, kemarahan, dan keinginan yang sama seperti ketika memulai karier. Dukungan klub serta suporter menjadi alasan utama dirinya menandatangani kontrak baru.
Luka Modric sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menandatangani kontrak baru sejak Desember 2025. Namun, mantan pemain Real Madrid tersebut memilih menunggu karena ingin mendengar respons tubuhnya terlebih dahulu.
Ia perlu memastikan masih mempunyai motivasi, tenaga, dan keinginan untuk menjalani satu musim penuh. Setelah melewati proses pertimbangan tersebut, semua jawaban yang diperoleh sesuai dengan harapannya.
“Saya masih baik-baik saja, masih memiliki gairah dan semua yang dibutuhkan untuk melanjutkan,” kata Luka Modric dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport.
Keinginan manajemen AC Milan mempertahankannya juga memperkuat keputusan tersebut. Luka Modric merasa mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang yang dibutuhkan seorang pemain sepanjang musim pertamanya di San Siro.
Ia mengaku sangat menikmati pengalamannya bersama AC Milan meski hasil akhir musim tidak sesuai harapan. Cedera yang dialaminya juga membuat sang gelandang tidak dapat membantu tim dalam sejumlah pertandingan penting.
AC Milan sempat berada dalam persaingan perebutan gelar Serie A sebelum mengalami kekalahan dari Lazio. Luka Modric menilai hasil tersebut menjadi salah satu titik yang mengubah perjalanan tim.
Menurut Luka Modric, para pemain mulai menurunkan intensitas setelah menyadari peluang memenangkan Scudetto semakin sulit. Skuad Milan juga dinilai terlalu yakin sudah mendapatkan tempat di Liga Champions.
Anggapan tersebut akhirnya menjadi kesalahan besar karena Milan gagal memenuhi target minimum. Luka Modric menegaskan pengalaman pahit itu harus menjadi pelajaran agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi.
Ia tidak hanya ingin bertahan untuk menikmati sisa kariernya di Italia. Luka Modric mempunyai target jelas untuk membawa AC Milan memenangkan trofi pada musim keduanya.
Wawancara Luka Modric juga berlangsung dalam suasana emosional setelah wafatnya legenda AC Milan, Franco Baresi. Bagi pemain Kroasia tersebut, Baresi merupakan salah satu simbol terbesar dalam sejarah Rossoneri.
Luka Modric sudah mengikuti AC Milan sejak masih kecil, terutama karena kehadiran kompatriotnya, Zvonimir Boban. Namun, karakter dan kepemimpinan Baresi turut membuatnya jatuh cinta kepada klub asal Italia tersebut.
Ia pernah bertemu Baresi ketika masih memperkuat Real Madrid dalam pertandingan melawan AC Milan di Los Angeles. Meski tidak sempat berbicara panjang, momen tersebut tetap meninggalkan kesan mendalam.
Luka Modric mengagumi Baresi sebagai pemimpin yang tidak banyak berbicara, tetapi selalu memberikan contoh melalui sikap dan permainan. Gaya kepemimpinan tersebut dianggap mewakili esensi AC Milan.
Salah satu momen yang paling diingat Luka Modric adalah perjuangan Baresi pulih dari operasi meniskus menjelang final Piala Dunia 1994. Bek legendaris Italia tersebut bahkan berani mengambil tendangan penalti dalam laga melawan Brasil.
Luka Modric berharap AC Milan bisa memenangkan trofi dan mendedikasikannya untuk Baresi. Ia juga menilai pertandingan derbi melawan Inter Milan di Australia membawa motivasi emosional tambahan bagi para pemain Rossoneri.
Luka Modric juga membicarakan kedatangan Ruben Amorim sebagai pelatih baru AC Milan. Keduanya telah beberapa kali berkomunikasi selama musim panas dan menghasilkan kesan awal yang positif.
Menurut Luka Modric, Amorim kemungkinan akan membawa ide serta pendekatan berbeda ke dalam tim. Para pemain harus berusaha memahami dan menjalankan instruksi yang diberikan pelatih asal Portugal tersebut.
Ia berharap hubungan dengan Amorim terus berjalan baik dan keduanya selalu berada dalam pemahaman yang sama. Luka Modric melihat awal kerja sama tersebut sebagai modal penting menjelang musim baru.
Selain pelatih baru, AC Milan juga mendatangkan Goncalo Ramos dengan nilai transfer yang memecahkan rekor klub. Luka Modric menilai penyerang Portugal tersebut mempunyai kualitas yang selama ini dibutuhkan Rossoneri.
Ramos dianggap sebagai penyerang yang mampu memberikan ketajaman dan karakter berbeda di lini depan. Luka Modric berharap pemain tersebut bisa mengulang performa bagus yang ditunjukkannya bersama klub-klub sebelumnya.
Keduanya mempunyai kenangan berbeda dari Piala Dunia 2026. Ramos mencetak gol yang membantu Portugal menyingkirkan Kroasia dengan skor 2-1 pada babak 32 besar.
Luka Modric mengaku sudah membicarakan gol tersebut ketika keduanya berada di Amerika Serikat. Namun, ia memilih tidak lagi mengungkitnya karena hasil pertandingan itu bukan kenangan menyenangkan.
Selain kemampuan di lapangan, Ramos dinilai mempunyai kepribadian baik. Luka Modric berharap kehadirannya bisa memberikan banyak kegembiraan kepada AC Milan dan suporternya.
Ia juga menyambut kedatangan Gila dan Diawara dalam skuad baru Milan. Kedua pemain tersebut diyakini akan menambah kualitas sekaligus karakter tim untuk mengejar target musim 2026/2027.
Masa depan Rafael Leao menjadi topik lain yang dibicarakan Luka Modric. Gelandang Kroasia tersebut secara terbuka menginginkan Leao tetap mengenakan seragam AC Milan.
Meski demikian, Luka Modric tidak ingin memberikan nasihat khusus mengenai keputusan karier Leao. Ia menilai pemain Portugal itu sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan terbaik bersama manajemen klub.
Leao dinilai tidak menjalani musim terbaiknya karena beberapa kali mengalami cedera dan berada dalam kondisi kurang ideal. Namun, kualitasnya tetap tidak diragukan oleh Luka Modric.
Menurutnya, Leao merupakan salah satu pemain terbaik dunia ketika berada dalam performa maksimal. Kecepatan, kekuatan fisik, dan kemampuan individunya sangat dibutuhkan Milan untuk melewati musim yang lebih sukses.
Luka Modric berharap Leao kembali menemukan permainan terbaiknya dan membantu Rossoneri meraih hasil besar. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemain dan klub.
Luka Modric sudah memenangkan enam gelar Liga Champions dan mengoleksi 34 trofi sepanjang kariernya. Kendati demikian, ambisinya belum berakhir setelah memperpanjang kontrak bersama AC Milan.
Ia menegaskan datang ke San Siro bukan sekadar menikmati sepak bola atau menghabiskan sisa karier. Luka Modric ingin meninggalkan Milan setelah berhasil memenangkan gelar.
Trofi tersebut bisa berupa Scudetto maupun kompetisi lainnya. Apa pun bentuknya, Luka Modric memastikan target utamanya tetap sama, yakni mengangkat piala dengan mengenakan seragam merah-hitam.
“Saya datang ke sini untuk menang, bukan hanya bersenang-senang atau menghabiskan waktu,” ujar Luka Modric.
Dengan kontrak hingga akhir musim 2026/2027, Luka Modric kini bersiap menjalani musim kedua bersama Rossoneri. Usia 41 tahun bukan hambatan selama tubuh, gairah, dan ambisinya masih berada pada level yang dibutuhkan.