1
1
SELAMA bertahun-tahun, para ilmuwan mengira burung pemakan nektar seperti burung kolibri (hummingbird) dan burung madu (sunbird) hanya menghisap cairan manis dari bunga dengan cara yang sama. Namun, teknologi kamera berkecepatan tinggi berhasil mengungkap fakta yang jauh lebih rumit dan mengejutkan.
Meskipun kedua burung ini terlihat mirip dan memiliki perilaku yang hampir sama, mereka ternyata minum dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Bahkan, salah satu dari mereka menggunakan teknik yang belum pernah didokumentasikan pada hewan vertebrata (bertulang belakang) lainnya.
Penelitian ini dipimpin David Cuban, seorang mahasiswa doktoral di University of Washington (UW). Rasa ingin tahunya muncul setelah melihat spesimen kedua burung tersebut bersanding di kelas ornitologi.
Selama beberapa dekade, buku pelajaran mencatat bahwa burung pemakan nektar minum melalui aksi kapiler, tarikan lambat dari tegangan permukaan yang menarik cairan ke atas tabung sempit. Namun, teori ini diragukan karena burung yang terbang cepat membakar kalori dengan sangat tinggi, sehingga penyerapan pasif dinilai terlalu lambat untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Keraguan itu akhirnya terjawab lewat rekaman video lambat. Burung kolibri tidak menghisap nektar secara pasif. Mereka menjatuhkan lidahnya yang bercabang ke dalam nektar, lalu lidah tersebut membuka saat salurannya terendam cairan. Ketika lidah ditarik kembali, paruhnya menjepit lidah tersebut hingga rata dan memeras nektar ke dalam mulutnya secara cepat.
Sementara itu, teka-teki pada burung madu dipecahkan oleh Cuban dengan merekam mereka menggunakan bunga buatan hasil cetakan 3D di Afrika Selatan dan Pulau Sulawesi, Indonesia. Karena lidah burung madu sebagian transparan, pergerakan cairan di dalamnya dapat terlihat jelas.
“Setelah Anda memperlambat videonya, di situlah hal-hal mulai menjadi menarik,” kata Cuban.
Saat burung madu mencelupkan lidahnya ke dalam nektar, ia menekan bagian pangkal lidah yang beralur ke langit-langit paruhnya, menciptakan segel yang rapat. Burung itu kemudian menarik lidahnya ke belakang secara perlahan, dan nektar akan mengalir mengikuti alur tersebut. Saluran yang tersegel ini memungkinkan tarikan berfungsi sebagai daya hisap, mencegah udara masuk yang bisa merusak proses tersebut.
Banyak hewan menggunakan daya hisap untuk makan, seperti ikan atau burung merpati yang menyedot air. Namun, belum pernah ada hewan bertulang belakang yang teramati makan murni melalui daya hisap yang dihasilkan oleh gerakan lidah saja.
Melalui pemindaian sinar-X pada spesimen museum, tim peneliti menemukan bahwa anatomi lidah burung madu berubah dari palung terbuka di bagian pangkal menjadi tabung tertutup di dekat ujungnya. Katup fleksibel kecil di pangkal lidah memungkinkannya menjepit paruh dengan erat untuk menjaga segel hisapan tetap terjaga.
Ketika dua spesies yang tidak berkerabat menemukan solusi yang sama untuk masalah yang sama, para ahli biologi menyebutnya sebagai evolusi konvergen. Burung madu dan burung kolibri adalah contoh nyata dari proses tersebut.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini kini mengubah cara para ilmuwan memodelkan metode burung makan, sekaligus memberikan cetak biru bagi para insinyur untuk merancang pompa mikro dan perangkat penanganan fluida di masa depan. (Earth/Z-2)