1
1
Lonjakan harga minyak dunia kembali terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan baru dalam perundingan terbaru, memicu ketegangan geopolitik yang berdampak langsung ke pasar energi global.
Pada awal perdagangan Asia, harga minyak mentah langsung melesat di atas level psikologis $100 per barel, didorong oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan rencana pemblokadean terhadap pelabuhan Iran.
Data pasar menunjukkan minyak mentah Brent sebagai acuan global naik sekitar 8,5% ke posisi $102,37 atau setara kurang lebih Rp1,63 juta per barel.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih tinggi hingga 9% dan diperdagangkan di level $105,34 atau sekitar Rp1,68 juta per barel. Kenaikan tajam ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.
Kegagalan negosiasi antara Washington dan Teheran pada akhir pekan menjadi pemicu utama kekhawatiran baru bahwa krisis energi global berpotensi semakin dalam.
Padahal sebelumnya, harga minyak sempat tertekan turun di bawah $100 per barel setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua pekan, termasuk pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran strategis karena menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan energi dunia. Ketegangan di kawasan ini meningkat drastis setelah Iran merespons serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dengan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas. Situasi ini membuat arus pengiriman energi global terganggu signifikan sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Sejumlah negara seperti India dan Malaysia memang dilaporkan berhasil mengamankan jalur pelayaran untuk kepentingan masing-masing, tetapi secara umum aktivitas distribusi energi masih jauh dari normal. Dampaknya langsung terasa di berbagai kawasan, terutama Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.
Sejalan dengan lonjakan harga energi, pasar saham di Asia juga bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat turun 0,8%, sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan merosot hingga 1,8% pada sesi perdagangan pagi. Tekanan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak lanjutan dari konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari kontrak berjangka saham Amerika Serikat yang mengarah pada pembukaan negatif di Wall Street. Instrumen ini kerap digunakan sebagai indikator awal sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik global.
Dalam beberapa pekan terakhir, fluktuasi harga minyak dan pergerakan pasar keuangan memang berlangsung sangat dinamis. Ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata, ditambah eskalasi konflik di wilayah lain seperti Lebanon, membuat investor terus bersikap hati-hati.
Situasi semakin memanas setelah Trump melalui platform Truth Social menyampaikan sikap tegas pemerintahannya. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mulai “MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.” Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi pasar karena berpotensi mengganggu distribusi energi global dalam skala besar.
Komando Pusat AS (Centcom) kemudian memperjelas bahwa kebijakan tersebut akan mulai diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu setempat. Dalam pernyataannya, Centcom menyebut langkah itu akan diterapkan tanpa pandang bulu.
“Akan diberlakukan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran,” demikian pernyataan resmi mereka.
Meski begitu, Centcom juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menghambat kapal yang melintas di Selat Hormuz selama tidak terkait dengan pelabuhan Iran. Hal ini menjadi upaya untuk mengurangi risiko gangguan total terhadap jalur perdagangan global.
Dari pihak Iran, respons keras langsung disampaikan oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan eksternal.
“Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media lokal.
Selain itu, Pasukan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan peringatan serius. Mereka menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati kawasan Selat Hormuz akan dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata dan “akan ditindak secara tegas.”
Dengan kondisi yang terus memanas, pasar global kini berada dalam fase penuh ketidakpastian. Investor, pelaku industri, hingga pemerintah di berbagai negara memantau perkembangan situasi dengan cermat, mengingat setiap eskalasi baru berpotensi memicu lonjakan harga energi sekaligus mengguncang stabilitas ekonomi dunia.