1
1
Peta persaingan industri otomotif di Asia Tenggara sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika selama puluhan tahun pasar didominasi oleh pabrikan Jepang, kini dua pemain baru asal Asia, VinFast (Vietnam) dan BYD (China), muncul sebagai kekuatan yang mengancam status quo.
Bukan hanya melalui penjualan ritel biasa, kedua raksasa kendaraan listrik (EV) ini menerapkan strategi jitu yang menyasar langsung keseharian masyarakat: taksi listrik. Langkah ini terbukti efektif membangun basis konsumen sekaligus menggerus pangsa pasar Jepang yang turun drastis dalam kurun waktu satu tahun.
Di jantung ibu kota Indonesia, Jakarta, warna hijau cyan khas layanan taksi Green Smart Mobility (Green SM) milik VinFast kini menjadi pemandangan umum. Kurang dari dua tahun sejak diluncurkan, taksi listrik ini telah menjadi primadona baru bagi warga lokal maupun turis asing.
Salah satu pengemudi taksi, Suminto, mengakui bahwa lonjakan pesanan kendaraan listrik sangat terasa dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, kenyamanan kabin yang luas dan pengoperasian yang mulus menjadi daya tarik utama. Namun, faktor harga adalah senjata pamungkas.
“Perjalanan 30 menit dengan Green SM hanya sekitar 30.000 rupiah (sekitar Rp30 ribu), sementara taksi konvensional bisa mencapai 80.000 rupiah (sekitar Rp80 ribu),” ungkap Suminto, melansir dari vietnam.vn, Kamis (26/03/2026) . Selisih harga yang signifikan ini menjadi alasan kuat mengapa masyarakat beralih ke layanan berbasis EV.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. VinFast telah menggulirkan layanan taksi serupa di Vietnam, Laos, dan Filipina. Sementara BYD tidak mau ketinggalan dengan menjalin kemitraan strategis bersama raksasa ride-hailing Grab, menyediakan armada EV di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Strategi taksi ini sebagai langkah cerdas untuk menghilangkan kecemasan konsumen terhadap kendaraan listrik. Dengan menjadi bagian dari keseharian, masyarakat secara perlahan terbiasa dengan kenyamanan, performa, dan efisiensi biaya EV.
Dampaknya langsung terlihat pada data penjualan. Selama sembilan bulan pertama tahun 2025, penjualan BYD dan VinFast di enam pasar utama Asia Tenggara mencatatkan pertumbuhan fenomenal, masing-masing melonjak 95% dan 90%.
Akibatnya, pangsa pasar produsen mobil Jepang yang selama ini kokoh di angka 69% tergerus menjadi hanya 59% hanya dalam kurun waktu satu tahun.
VinFast dan BYD memang bergerak cepat, namun dengan pendekatan yang sedikit berbeda.
VinFast mengandalkan strategi ekosistem komprehensif. Mereka tidak hanya menjual mobil, tetapi juga agresif membangun infrastruktur pendukung. Di Vietnam, misalnya, mereka telah memiliki lebih dari 150.000 port pengisian daya, menciptakan tembok penghalang yang sulit ditembus kompetitor.
Sedangkan BYD memanfaatkan keunggulan teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) untuk menjangkau area dengan infrastruktur pengisian daya yang belum memadai.
Menariknya, VinFast menunjukkan fleksibilitas tinggi dengan berencana menghadirkan kendaraan Extended Range Electric Vehicle (EREV)—yang menggunakan mesin bensin kecil sebagai pengisi daya baterai—untuk menjangkau daerah-daerah terpencil.
Meski sukses di Asia Tenggara, India masih menjadi “gunung es” yang sulit ditaklukkan. Baik VinFast maupun BYD menghadapi tantangan berat di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu.
Dominasi lama Maruti Suzuki yang mengakar kuat, ditambah terbatasnya jaringan pengisian daya, membuat penjualan awal kedua pabrikan ini masih sederhana. BYD bahkan menghadapi kendala regulasi karena pemerintah India yang ketat terhadap arus modal asing asal China.
Namun, VinFast memasang taruhan besar. Mereka membangun pabrik perakitan di Tamil Nadu dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun. Bos VinFast, Pham Nhat Vuong, dikabarkan telah menyiapkan miliaran dolar untuk membangun ekosistem lengkap, mulai dari taksi listrik hingga infrastruktur sosial.