1
1
HOLLYWOOD semakin agresif memburu cerita asal Korea Selatan sebagai sumber produksi baru. Tak lagi hanya mengandalkan popularitas drama Korea atau K-pop, studio-studio besar kini mulai melirik novel, film lama, hingga karya yang sebelumnya memiliki basis penggemar terbatas untuk diadaptasi ke pasar global.
Tren terbaru terlihat dari rencana Disney mengangkat novel fantasi Korea “DallerGut Dream Department Store” karya Lee Mi-ye menjadi film live action. Deadline pada 12 Agustus melaporkan, penulis skenario Patrick Ness dipercaya menggarap adaptasi tersebut.
Ness sebelumnya dikenal lewat sejumlah adaptasi karya young adult, termasuk trilogi Chaos Walking dan A Monster Calls.
DallerGut Dream Department Store berkisah tentang Penny, seorang pegawai toko serba ada yang menjual mimpi kepada para pelanggan yang sedang tertidur. Kehidupannya berubah ketika berbagai kejadian misterius mulai menimpa para pelanggan toko tersebut.
Novel yang terbit pada 2020 itu mencatat penjualan lebih dari 1 juta kopi di Korea Selatan, menjadikannya novel Korea pertama yang dirilis pada dekade 2020-an dan menembus angka tersebut. Buku itu kemudian diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa dengan penjualan global melampaui 2 juta kopi.
Lee Mi-ye sendiri sebelumnya bekerja sebagai insinyur semikonduktor di Samsung Electronics. Ide ceritanya berangkat dari rasa penasaran mengenai alasan manusia menghabiskan sekitar sepertiga hidupnya untuk tidur.
Masuknya novel tersebut ke Hollywood memperlihatkan perubahan pola pencarian kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) Korea.
Jika sebelumnya studio asing lebih banyak membeli serial yang sudah populer untuk layanan streaming atau membuat ulang film dengan catatan box office kuat, kini mereka mulai mencari sumber cerita sejak tahap awal. Novel dan film lama dengan konsep unik pun menjadi sasaran.
Salah satu proyek lain adalah “The Hole”, film dwibahasa Inggris-Korea yang tengah dipersiapkan sutradara Kim Jee-woon. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Pyun Hye-young yang pernah meraih Shirley Jackson Award.
Kim dikenal melalui sejumlah film seperti I Saw the Devil (2010) dan The Age of Shadows (2016).
The Hole akan dibintangi aktor Inggris Theo James sebagai seorang profesor yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil yang menewaskan istrinya. Karakter sang istri dimainkan Jung Ho-yeon, aktris yang dikenal secara global lewat serial Netflix Squid Game.
Selain karya sastra, film bergenre unik dari Korea Selatan juga terbukti memiliki daya tarik tersendiri bagi Hollywood.
Film “Save the Green Planet!” karya sutradara Jang Joon-hwan misalnya. Film yang dirilis pada 2003 itu awalnya tidak berhasil besar di box office domestik, tetapi kemudian memperoleh status sebagai film kultus.
Cerita tersebut kemudian diadaptasi menjadi film berbahasa Inggris berjudul “Bugonia”, disutradarai Yorgos Lanthimos dan dibintangi Emma Stone. Film itu tayang di bioskop Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu dan menyusul di Korea Selatan pada November.
Jejak serupa juga terlihat dari karya-karya Ma Dong-seok.
Film kriminal “The Gangster, The Cop, The Devil” yang dirilis pada 2019 sedang dipersiapkan untuk versi remake Amerika Serikat. Sementara itu, serial film populernya “The Roundup” dikembangkan secara terpisah untuk pasar Jepang.
Dengan demikian, IP yang terkait dengan aktor yang sama dapat dikembangkan dalam versi berbeda untuk dua pasar internasional sekaligus.
Perburuan cerita Korea kini bahkan berkembang menjadi kerja sama antarsstudio.
Pada Oktober tahun lalu, Warner Bros. Discovery menandatangani kesepakatan dengan CJ ENM untuk mengembangkan remake berbahasa Inggris dari katalog film milik perusahaan hiburan Korea Selatan tersebut.
Kerja sama itu berjalan dua arah. CJ ENM juga akan mengembangkan adaptasi Korea dari judul-judul milik Warner Bros.
Model tersebut menunjukkan perubahan dari pola lama berupa pembelian hak adaptasi satu per satu menuju hubungan yang lebih terstruktur dalam mengembangkan IP lintas negara.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa daya tarik industri hiburan Korea tidak lagi terbatas pada produk yang sudah sukses secara global. Bagi Hollywood, konsep cerita yang kuat dan dapat diterjemahkan ke berbagai budaya kini menjadi aset penting, baik berasal dari novel terlaris, film populer, maupun karya kultus yang sempat luput dari perhatian pasar luas. (The Korea Times/Z-10)