1
1
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap II di Provinsi Sumatra Selatan sebagai langkah antisipasi menghadapi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Kepala Subdirektorat Pencegahan Kebakaran Hutan Kemenhut M. Hariyanto mengatakan operasi tersebut dilakukan menyusul kondisi iklim yang semakin kering akibat fenomena El Niño yang diperkirakan menguat hingga akhir 2026.
“Fenomena El Niño telah aktif dan diprediksi akan mencapai level kuat hingga akhir tahun 2026 yang memicu percepatan kekeringan meteorologis di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatra Selatan,” ujar Hariyanto dalam keterangannya, Senin (20/7).
Ia mengungkapkan, jumlah titik panas (hotspot) nasional sepanjang 1 Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 1.412 titik. Angka tersebut meningkat 110,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan 670 hotspot.
Menurut Hariyanto, OMC merupakan bagian dari perubahan paradigma pengendalian karhutla yang kini mengedepankan upaya pencegahan. Melalui penyemaian awan potensial pada masa transisi dan awal musim kemarau, pemerintah berupaya memicu hujan untuk menjaga kelembapan lahan.
Selain membasahi vegetasi agar tidak mudah terbakar, hujan hasil OMC diharapkan mampu mempertahankan tinggi muka air tanah (TMAT) di lahan gambut tetap di atas ambang kritis serta mengisi waduk, kanal, embung, dan kolam retensi sebagai cadangan air untuk operasi pemadaman jika terjadi kebakaran.
Operasi Modifikasi Cuaca tahap II didukung Kemenhut akan berlangsung selama 12 hari, mulai 19 hingga 30 Juli 2026. Seluruh kegiatan dipusatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang, Palembang.
Hariyanto mengatakan keberhasilan operasi tersebut bergantung pada sinergi lintas instansi. Kemenhut menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI AU melalui Lanud Sri Mulyono Herlambang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, serta Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan.
Ia juga mengingatkan seluruh personel agar memperkuat koordinasi selama operasi, mematuhi standar keselamatan penerbangan dan penyemaian bahan, serta memastikan penyemaian dilakukan secara optimal di kawasan kubah gambut yang rawan terbakar. (Ata/P-3)